LANGIT OPERA (PART 1)
October 20, 2026Matahari di Langit Opera
Part 1 (Putih - Abu)
Buatku semua orang di muka bumi ini memiliki mimpi. Mimpi-mimpi itu bukanlah hanya sekedar sebuah imajinasi, tapi sebuah impian. Dan aku percaya bahwa tidak ada satu makhluk pun di dunia yang bisa membunuh impian seseorang, kecuali orang itu tidak berakal dan tidak berhati — sepenggal tulisan yang kutulis disebuah buku berwarna biru muda yang di depannya terpasang fotoku sedang memandang laut di kejauhan. Buku biru yang berhiaskan taburan pasir putih pantai.
Aku buka halaman berikutnya, dengan sekejap diriku tersedot masuk ke dalamnya. Aku melihat diriku berlari kecil. Mencoba menangkap kupu-kupu yang terbang cantik di atas kepalaku. Sayap-sayapnya yang mengepak ringan, berwarna merah kekuningan dengan degradasi warna yang cukup indah membuat pandanganku tak mau lepas dari kupu-kupu cantik itu.
Lembutnya pasir pantai yang melekat di sela-sela jari kakiku terasa hangat. Aroma air laut yang berhasil membiusku. Aku terus saja berlari, langkahku makin kupercepat. Aku hampir tidak sanggup lagi mengejar kupu-kupu kecil yang terbang makin tinggi. Aku sudah tak sanggup mengejarnya, kakiku lemas, aku pun terjatuh.
Sesaat, tampak dua sosok pria dibalik silaunya matahari memberikan kedua tangannya, menggapai tanganku, mencoba membantuku untuk bangun dari jatuhku. Mereka mengenggam erat tangan kanan dan kiriku.
Dan awww….rasa nyeri terasa di kepala kiriku. Sayup sayup aku melihat cahaya terang menyilaukan. Perlahan kubuka mataku, dan kemudian….
Aku terbangun dengan kepala berdenyut-denyut. Pandanganku terasa buram-buram terang, tetapi sinar matahari pagi masuk dengan cantiknya dari balik tirai jendela kamar. Terdengar suara berirama yang cukup keras menusuk telinga yang beberapa detik aku cermati dengan penuh syahdu. Suara 1, suara 2, suara 3 terdengar bersahut-sahutan. Nampaknya seperti suara vocal group burung berkicau yang lebih tepatnya suara burung versi stereo. Kuraih jam wekerku, kupandangi dengan nyawa yang masih loading dan WHAT! Aku terlambat bangun!!!
∞∞
Pagi ini hari tidak terlalu cerah seperti biasanya. Sudah terhitung hampir satu bulan matahari nongol dengan malu-malu berhubung sekarang sedang musim hujan. Cuaca di luar benar-benar seperti musim dingin di Inggris, cahaya matahari memang bersinar tapi tetap angin dinginnya masih tetap eksis bergoyang dangdut di jemuran kamar atas.
Dingin-dingin seperti ini memang enaknya bersembunyi di balik selimut tebal kesayangan, tapi apa mau dikata, ujian sudah di depan mata, buku-buku menumpuk di atas meja belajar yang berlapis kaca hitam tebal. Kalau memang buku-buku itu punya nyawa sama seperti kita, mungkin mereka sedang berteriak nyaring meminta untuk di baca oleh si pemilik yang bersangkutan.
Berhubung jam weker kuning bergambar kucing dengan enam buah kumis hitamnya itu sudah salah ku-setel jarumnya, itu berarti akan dijamin sukses jaya aku tidak bisa menyantap sarapan pagi kali ini.
Entahlah kali ini aku harus mengucap syukur atau justru berlari kencang ke arah jemuran handuk yang bertengger cantik di jemuran. Belum lagi membuatku meloncat-loncat indah meraih handuk yang senang sekali berkibar bak bendera tertiup angin pagi yang nggak kalah kencangnya dengan kecepatan mobil Formula 1, alhasil memaksaku untuk selalu berolahraga pagi ditemani angin dingin khas pegunungan dan matahari yang masih malu-malu kucing untuk menyapaku.
Setelah bergegas mengambil handuk kesayangan, aku langsung dengan cepatnya masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi secepat kilat yang diberi nama ritual mandi bebek. Itulah nama ritual yang dengan bangganya diberikan oleh Papa kepadaku setiap kali anak gadis manisnya ini terlambat bangun pagi. Hanya butuh waktu tidak lebih dari 15 menit saja untuk jebar-jebur air,sabunan, dan berganti seragam kebesaran putih abu-abu.
Selesai mencium tangan dan memberi cipika-cipiki untuk Papa, aku segera mengenakan sepatu hitam kinclong yang sudah disemir pada malam harinya dan lari menuju depan komplek, sebuah tempat yang setiap hari saya kunjungi dan ber-isi-kan segala wajah mang mang angkot yang aku yakin betul banyak sekali yang belum mandi pagi. Dengan sigapnya aku berlari dan sesekali disambut hangat dengan ucapan “pagi Donna”, “aduh neng telat ya”, “aduh neng jalannya hati- hati”, hingga “aduh neng nang neng gong deh.” Kalimat sambutan dari para ibu-ibu tetangga berhati mulia yang selalu menyapaku hampir setiap pagi sambil berebut kangkung segar, paha ayam, pindang tongkol dan bahkan petai serta tak lupa pula sapaan good morning dari tukang sayur langganan yang telah menganggap keberadaanku sebagai pencerah dan semangat pagi berdagang.
Bahkan kalau aku hitung kancing sembari berlari, nampaknya kecepatan gowesan tukang becak dekat sekolahku masih kalah dengan sprint-ku pagi ini. Apalagi kalau bukan dikejar waktu, pasalnya lonceng sekolah berbunyi jam 7 lebih 15 menit. Sedangkan perjalanan dari rumah menuju sekolah di perkirakan membutuhkan waktu satu jam.
Keapesan hari ini belum usai dengan ditambah bahwa sisa-sisa belajar sistim ngebut semalam hanya sedikit yang berbekas dalam kepala, padahal ada ulangan Kimia dari Ibu Sis yang galaknya udah kayak serigala mau ngeluarin taring tajamnya. Walhasil siap-siap menggunakan ilmu ‘indra ke-enam’ memanggil ekor ekor ilmu dari hasil menghapal semalam untuk menjawab semua soal ulangan nanti.
∞∞
Nayla di rumah Karina
Sepulang dari sekolah, aku mampir ke rumah Karina sahabat baikku. Kami sudah bersahabat sejak duduk di bangku SD. Segala macam buku paket pelajaran, tempat pinsil hingga baju latihan basket milikku senang sekali menginap di rumahnya.
Baru saja aku buka gerbang rumah Karin, dia sudah berteriak nyaring sambil berlari kecil dari dalam rumahnya dengan membawa plastik hitam dan panci mie di tangan kanannya.
”Nayla selamat ulang tahun ya sahabatku.” Ucapnya sambil memelukku erat sembari menempelkan pantat panci di pinggang kiriku.
”Duh.....yang makin tua, semoga semua cita citanya terkabul ya Nay.”
”Aminnnn. Makasih Rin.”
”Eh dipanggil mami tuh, udah ditunggu dari tadi.” ajak Karin.
”Wah....yuk kita ke mami. Kangen nih.” ”Eh…eh…”
”Nape? udah ayuk kita ke mami nih buruan.”
”Tar dulu, tar dulu....” pinta Karin sambil senyum senyum nyengir mencurigakan.
”Happy birthday!” teriak Karin sembari sukses mencaplok dua butir telur di ubun-ubun kepalaku. Pakai acara taburin tepung terigu seperempat kilo pula.
”Karinnnnnnnn!!!” teriakku pasrah. Kejutan konyol itu sukses membuatku dan Karin tertawa lepas di depan garasi sambil disaksikan sama si item kucing kesayangannya keluarga Karin yang mengeong manja melingkarkan ekornya di kaki kanannya.
Karena dari dalam rumah Mami mendengar suara rame-rame dua bocah tengil ini, makanya Mami langsung saja bergegas mengintip dari balik jendela dapur.
”Masya Allah ini 2 anak, nggak pernah ada yang beres!” tukas Mami sambil geleng-geleng kepala.
”Iya Mi, sekalian bantuin memanfaatkan sisa adonan kue Mami yang nggak kepake. Lumayan kan Mi, jadi Mami gausah repot-repot lagi bikin kue. Ini Nay tinggal dimasukin ke oven. Jadi deh kuenya” huahahahaaa... ejek Karin senang.
”Ya sudah, ayo Nay kamu ganti baju dulu,” ujar mami.
”dan kamu Karin, jangan lupa bersihkan dulu garasinya.” perintah Mami.
”Yaaah, Mami, ntar aja ya, Mi?” jawab Karin memelas.
”Karina Oktaviaaaa” ujar Mami sembari memasang tampang galak.
”Udah Mami. Aku bantu Karin beresin garasi yah.” jawabku berusaha memecah ketegangan ibu dan anak ini sambil mengedipkan sebelah mataku ke sahabat tercintaku ini.
Selesai kami membersihkan garasi, aku berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Karin. Rumah yang sudah 9 tahun menjadi rumah keduaku. Rumah yang hampir setiap hari aku datangi sebelum pulang ke rumah. Rumah yang memberiku kasih sayang dan kehangatan sebuah keluarga lengkap.
”Mamiiiiiiiiiiiiiii.........”
”Apa anak manis. Ini liat Mami udah bikinin apa?”
Aku langsung bergegas menuju ke ruang tengah keluarga.
”Mami...makacih. Wihh enak banget.” seruku dengan mata dan lidah sudah siap menyantap habis.
”Iya dong, siapa dulu yang buatnya.... maminya Nayla,” senyum Mami sambil mengelap pisau kue.
Di atas meja oval berpelitur bercorak bunga terlihat kue black forest besar buatan Mami sendiri spesial untuk hari ulang tahunku katanya.
Tak lama Papi sudah pulang dari kantor. Dan tanpa menunggu cukup lama, aku di minta untuk memotong kue. Doa bersama dipimpin oleh Papi. Dan aku juga berdoa semoga aku dan Karin lulus Ujian Akhir Nasional yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi dengan mendapat hasil yang terbaik dan masuk ke universitas favorit kami berdua.
∞∞


0 Comments
Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.
Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)